ANALISIS PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
ANALISIS PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
LINTJE ANNA MARPAUNG
Dosen
Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung Jl. ZA Pagar Alam No.26 Labuhan
Ratu Bandar Lampung
ABSTRACT
Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan perencanaan tata ruang dapat
mengakibatkan ancaman bagi kelestarian lingkungan. Untuk mewujudkan kawasan
yang nyaman agar dapat menghasilkan kesejahteraan masyarakat di butuhkan
pelaksanaan perencaan tata ruang yang transparan,efektif dan
partisipatif.masalah yang paling utama dalam melaksanakan penelitian ini
meliputi, bagaimana implementasi perencanaan tata ruang dalam perspektif
pembangunan berkelanjutan terutama di kabupaten lampung timur.dalam
pelaksaannya tujuannya untuk mencapai tertib penggunaan ruang di kabupaten
lampung timur belum dilaksanakan secara optimal dan aba beberapa faktor
penghambat pelaksanaan peraturan daerah rencana tata ruang yang berasal dari
faktor internal dan faktor eksternal pemerintah daerah.dari faktor internal
kurangnya dumber daya manusia dan dana untuk melaksanaan pengawasan yang sangat
jelas masalah ini adalah masalah sangat umum dalam perencanaan tata ruang.
Untuk masalah eksternal kuranganya paham pejabat pemerintah akan perencanaan
tata ruang. Adanya masalah ini karena pemerintah daerah sendiri tidak cukup
berani memberi sanksi bagi pelanggar serta kurangnya penyuluhan dan sosialisasi
kepada masyarakat
Kata kunci : implementasi perencanaan tata ruang,pembangunan
berkelanjutan
I.PENDAHULUAN
Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang
berbentuk Republik sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang
Dasar 1945. Berkaitan dengan ketentuan tersebut, dalam ketentuan Pasal 18 ayat
(1) dinyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas
daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah,
yang diatur dengan undang-undang.
Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah di atur dalam Pasal 18A ayat (1), yang menyatakan bahwa
hubungan wewenang
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi, pemerintah
daerah kabupaten, dan kota, atau provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan
undang-
undang dengan memperhatikan kekhususan dan dan
keragaman daerah.
Terkait dengan ketentuan tersebut, Pasal 2 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menyatakan bahwa
pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah, dengan tujuan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.
Tujuan pemerintah daerah menjalankan otonomi
seluas-luasnya, sebagaimana diatur dalam ketentuan
|
wilayah
|
administrasi
|
yang
|
mencapai
|
|||||||||||
|
negara yang
dinyatakan dalam alinea
|
kurang lebih 5.325,03 km2 atau sekitar
|
|||||||||||||
|
keempat pembukaan
Undang-Undang
|
15% dari
luas Provinsi Lampung,
|
|||||||||||||
|
Dasar 1945, yaitu melindungi segenap
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
memiliki
|
||||||||||
|
bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah
|
sumber
daya alam hayati dan non hayati
|
|||||||||||||
|
darah Indonesia
dan untuk memajukan
|
yang
|
relatif melimpah.
|
|
Tingginya
|
||||||||||
|
kesejahteraan
|
umum,
|
mencerdaskan
|
kekayaan sumber
daya alam hayati
di
|
|||||||||||
|
kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan
|
Kabupaten
|
Lampung
|
|
Timur
|
ditunjukkan
|
|||||||||
|
ketertiban dunia
|
yang
|
berdasarkan
|
dengan
keanekaragaman flora dan fauna
|
|||||||||||
|
kemerdekaan,
|
perdamaian
|
abadi, dan
|
yang ada
di Taman Nasional
Way
|
|||||||||||
|
keadilan sosial.‖ Tujuan yang dinyatakan
|
Kambas,
selain itu, di bidang agrikultur
|
|||||||||||||
|
dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar
|
Kabupaten
Lampung Timur juga terkenal
|
|||||||||||||
|
1945 tersebut,
mengindikasikan
|
bahwa
|
sebagai
sentra produksi pertanian tanaman
|
||||||||||||
|
Indonesia sebagai
negara hukum yang
|
pangan,
hortikultura (buah dan sayuran),
|
|||||||||||||
|
menganut welfare state
atau konsepsi
|
perkebunan
(singkong, coklat, lada, karet,
|
|||||||||||||
|
negara
kesejahteraan (Hasni, 2008: 2)
|
tembakau),
dan peternakan.
|
|
|
|||||||||||
|
|
Terkait dengan ketentuan tersebut,
|
Penganekaragaman
|
pemanfaatan
|
|||||||||||
|
pasca pemberlakuan Undang-Undang
|
potensi
sumber daya alam, baik hayati dan
|
|||||||||||||
|
Nomor 32
Tahun 2004 tentang
|
non
hayati, yang dimiliki oleh Kabupaten
|
|||||||||||||
|
Pemerintahan
|
Daerah, daerah
|
diberikan
|
Lampung
Timur tersebut, dapat dijadikan
|
|||||||||||
|
keleluasaan
|
untuk
|
mengelola
|
dan
|
sumber pendapatan
asli daerah sebagai
|
||||||||||
|
memanfaatkan
potensi sumber daya yang
|
salah
|
satu
|
sumber
|
pembiayaan
|
||||||||||
|
dimilikinya.
Keleluasaan untuk mengelola
|
pembangunan
|
dalam
|
|
meningkatkan taraf
|
||||||||||
|
dan
memanfaatkan potensi sumber daya
|
hidup
|
masyarakat.
|
Namun,
|
|
wewenang
|
|||||||||
|
yang dimiliki
tersebut sesuai dengan
|
daerah
dalam pemanfaatan sumber daya
|
|||||||||||||
|
ketentuan
Pasal 18.A ayat (2) Undang-
|
alam
tersebut, juga memiliki kewajiban
|
|||||||||||||
|
Undang Dasar
1945, yang menyatakan
|
untuk
|
memperhatikan
|
kelestarian
|
|||||||||||
|
bahwa
|
hubungan keuangan,
|
pelayanan
|
lingkungan,
|
|
kewajiban tersebut sesuai
|
|||||||||
|
umum, pemanfaatan
sumber daya alam
|
dengan ketentuan
Pasal 22 huruf
k
|
|||||||||||||
|
dan sumber
daya lainnya antara
|
Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004,
|
|||||||||||||
|
pemerintah
pusat dan pemerintah daerah
|
yang
|
menyatakan
|
|
bahwa
|
dalam
|
|||||||||
|
diatur
dan dilaksanakan secara adil dan
|
menyelenggarakan
otonomi daerah, daerah
|
|||||||||||||
|
selaras
berdasarkan undang-undang.
|
mempunyai
|
|
kewajiban
|
melestarikan
|
||||||||||
|
|
Kabupaten
|
Lampung
|
|
Timur
|
lingkungan
hidup.
|
|
|
|
|
|||||
|
sebagai salah
satu daerah otonom
di
|
Pertimbangan
|
|
|
|
kewajiban
|
|||||||||
|
Indonesia,
|
yang
|
terbentuk
|
|
melalui
|
melestarikan
lingkungan hidup dinyatakan
|
|||||||||
|
Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1999
|
dalam
|
Penjelasan
|
|
Undang-Undang
|
||||||||||
|
tentang
|
Pembentukan
|
Kabupaten
|
Daerah
|
Nomor 32
Tahun 2009 tentang
|
||||||||||
|
Tingkat
II Way Kanan, Kabupaten Daerah
|
Perlindungan
|
dan
|
Pengelolaan
|
|||||||||||
|
Tingkat II
Lampung Timur dan
|
Lingkungan
|
Hidup,
|
bahwa
|
ketersediaan
|
||||||||||
|
Kotamadya
Daerah Tingkat II Metro, pun
|
sumber
daya alam secara kuantitas ataupun
|
|||||||||||||
|
memiliki
kewenangan untuk memanfatkan
|
kualitas tidak merata, sedangkan kegiatan
|
|||||||||||||
|
.............................................
|
||||||||||||||
|
potensi
sumber daya alamnya Dengan luas
|
pembangunan
membutuhkan sumber daya
|
|||||||||||||
|
16
|
|
|
Analisis Penyelenggaraan
Penataan Ruang … (Lintje Anna Marpaung)
|
|||||||||||
|
nyaman,
|
produktif,
|
|
dan
|
|
berkelanjutan
|
|||||||||||||
|
pembangunan
|
juga
|
mengandung
|
risiko
|
berlandaskan
|
Wawasan
|
Nusantara dan
|
||||||||||||
|
terjadinya
|
|
pencemaran
|
dan
|
kerusakan
|
Ketahanan
Nasional, diperlukan penataan
|
|||||||||||||
|
lingkungan.
|
|
Kondisi
|
ini
|
dapat
|
ruang
|
yang
|
dapat
|
mengharmoniskan
|
||||||||||
|
mengakibatkan
|
daya
|
dukung,
|
daya
|
lingkungan
alam dan lingkungan buatan
|
||||||||||||||
|
tampung,
|
dan
|
produktivitas
|
lingkungan
|
yang mampu
|
mewujudkan
|
keterpaduan
|
||||||||||||
|
hidup menurun
yang pada akhirnya
|
penggunaan
sumber daya alam dan sumber
|
|||||||||||||||||
|
menjadi beban
sosial. Oleh karena
itu,
|
daya
buatan, serta yang dapat memberikan
|
|||||||||||||||||
|
lingkungan
|
hidup
|
Indonesia
|
harus
|
perlindungan
terhadap fungsi ruang dan
|
||||||||||||||
|
dilindungi dan
dikelola dengan baik
|
pencegahan
|
dampak
|
negatif
|
|
terhadap
|
|||||||||||||
|
berdasarkan
asas tanggung jawab negara,
|
lingkungan
|
hidup
|
akibat
|
pemanfaatan
|
||||||||||||||
|
asas keberlanjutan, dan
asas keadilan.
|
ruang.
Kaidah penataan ruang ini harus
|
|||||||||||||||||
|
Selain
itu, pengelolaan lingkungan hidup
|
diterapkan
dan diwujudkan dalam setiap
|
|||||||||||||||||
|
harus
|
dapat
|
memberikan
kemanfaatan
|
proses
perencanaan tata ruang wilayah.
|
|||||||||||||||
|
ekonomi, sosial,
dan budaya yang
|
Berkaitan dengan hal tersebut di atas,
|
|||||||||||||||||
|
dilakukan berdasarkan
prinsip kehati-
|
dan
untuk melaksanakan ketentuan amanat
|
|||||||||||||||||
|
hatian,
|
|
|
demokrasi
|
|
lingkungan,
|
Pasal
78 ayat (4) huruf c Undang-Undang
|
||||||||||||
|
desentralisasi,
|
serta
|
pengakuan
|
dan
|
Nomor
26 Tahun 2007, maka Pemerintah
|
||||||||||||||
|
penghargaan
terhadap kearifan lokal dan
|
Daerah
|
Kabupaten
|
|
Lampung
|
Timur
|
|||||||||||||
|
kearifan lingkungan.
|
|
|
|
|
menyusun
|
dan menetapkan
|
Peraturan
|
|||||||||||
|
|
Konsideran
|
menimbang
Undang-
|
Daerah
|
Kabupaten
|
|
Lampung
|
Timur
|
|||||||||||
|
Undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang
|
Nomor
04 Tahun 2012 tentang Rencana
|
|||||||||||||||||
|
Penataan
Ruang, menyatakan bahwa ruang
|
Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Lampung
|
|||||||||||||||||
|
wilayah
|
Negara
|
Kesatuan
|
Republik
|
Timur Tahun
2011-2031 (yang selanjutnya
|
||||||||||||||
|
Indonesia
|
|
yang
|
merupakan
|
negara
|
disebut Perda
RTRW), dengan tujuan
|
|||||||||||||
|
kepulauan
berciri Nusantara, baik sebagai
|
untuk
|
mewujudkan
|
pengembangan
|
|||||||||||||||
|
kesatuan
wadah yang meliputi ruang darat,
|
wilayah
berbasis agribisnis yang berdaya
|
|||||||||||||||||
|
ruang laut,
dan ruang udara,
termasuk
|
saing secara
berkelanjutan dan merata,
|
|||||||||||||||||
|
ruang di
dalam bumi, maupun
sebagai
|
sebagaimana dinyatakan
dalam Pasal 5
|
|||||||||||||||||
|
sumber daya,
perlu ditingkatkan upaya
|
Perda
RTRW tersebut.
|
|
|
|
|
|||||||||||||
|
pengelolaannya
secara bijaksana, berdaya
|
Pemerintah
|
Daerah
|
|
Kabupaten
|
||||||||||||||
|
guna, dan
berhasil guna dengan
|
Lampung
|
Timur
|
|
melalui
|
kebijakan
|
|||||||||||||
|
berpedoman
pada kaidah penataan ruang
|
pengaturan
penataan ruang telah berupaya
|
|||||||||||||||||
|
sehingga
kualitas ruang wilayah nasional
|
mengarahkan
|
agar
|
|
tercipta
|
ketertiban
|
|||||||||||||
|
dapat
|
terjaga
|
keberlanjutannya
|
demi
|
pemanfaatan
|
ruang,
|
namun
|
kenyataannya
|
|||||||||||
|
terwujudnya
|
kesejahteraan
|
umum dan
|
di
lapangan Perda RTRW tersebut belum
|
|||||||||||||||
|
keadilan sosial
sesuai dengan landasan
|
dapat
mewujudkan ketertiban pemanfaatan
|
|||||||||||||||||
|
konstitusional Undang-
Undang Dasar
|
ruang.
Saat ini di lapangan masih terdapat
|
|||||||||||||||||
|
Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
|
aktivitas
pemanfaatan ruang wilayah yang
|
|||||||||||||||||
|
Penjelasan Undang-Undang Nomor 26
|
tidak
|
sesuai
|
wilayah
|
|
peruntukkan
|
|||||||||||||
|
Tahun 2007
tentang Penataan Ruang,
|
sebagaimana
di atur dalam Perda RTRW.
|
|||||||||||||||||
|
mengamanatkan
|
bahwa
|
|
untuk
|
Pencapaian tujuan Perda RTRW untuk
|
||||||||||||||
|
.............................................
|
||||||||||||||||||
|
mewujudkan
ruang wilayah yang aman,
|
mewujudkan
pengembangan wilayah yang
|
|||||||||||||||||
|
PRANATA HUKUM Volume 9 Nomor 1 Januari 2014
|
|
|
|
|
|
|
|
|
17
|
|||||||||
berbasis agribisnis yang berdaya saing secara berkelanjutan dan merata,
seringkali berhadapan dengan kepentingan ekonomi yang mengancam kelestarian
lingkungan, sebagai contoh, aktivitas penambangan pasir di Kecamatan Pasir
Sakti, yang tidak sesuai dengan peruntukan, telah menimbulkan kerusakan
lingkungan yang cukup meresahkan masyarakat, selain itu pada kawasan hutan
lindung Register 38 yang seharusnya dilindungi keberadaannya sesuai dengan
amanat undang-undang, telah berubah fungsi menjadi kawasan permukiman.
Pemanfaatan ruang yang melanggar ketentuan Perda
RTRW tersebut tentu saja dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan di
Kabupaten Lampung Timur, yang merupakan kabupaten yang masyarakatnya sebagian
besar (44,98%) bermatapencaharian dari sektor pertanian,
berbasis agribisnis yang berdaya saing secara berkelanjutan dan merata
dapat tercapai secara maksimal.
Berdasarkan uraian pada latar
belakang tersebut, maka dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut
Bagaimana penyelenggaraan penataan ruang dalam perspektif pembangunan
berkelanjutan di Kabupaten Lampung Timur? dan Apakah
faktor-faktor penghambat dalam implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur
Nomor 04 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lampung Timur
Tahun 2011-2031?
II. PEMBAHASAN
Penyelenggaraan Penataan Ruang
dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Lampung Timur
|
yang
memerlukan ketersediaan lahan subur
|
|
Pertumbuhan
|
|
penduduk
|
di
|
||||||||||
|
dan air
yang melimpah. Aktivitas
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
menuntut
|
|||||||||||
|
penambangan pasir
liar yang merusak
|
pemerintah
|
|
daerah
|
|
untuk
|
mampu
|
|||||||||
|
lingkungan
dan perubahan fungsi hutan
|
menyediakan
|
berbagai
|
sarana
|
dan
|
|||||||||||
|
sebagai
daerah tangkapan air tentu saja
|
pemenuhan
|
hidup rakyatnya. Kewajiban
|
|||||||||||||
|
mengancam
|
keberlangsungan
|
aktivitas
|
pemerintah
|
|
daerah
|
untuk
|
memenuhi
|
||||||||
|
pertanian
oleh masyarakat.
|
|
|
|
kebutuhan
|
masyarakat
|
tersebut,
|
karena
|
||||||||
|
Implementasi
|
Perda
|
RTRW
|
guna
|
tujuan
pembentukan daerah adalah dalam
|
|||||||||||
|
mewujudkan
|
tujuan
|
penataan
|
|
ruang
|
rangka
mewujudkan kesejahteraan rakyat,
|
||||||||||
|
sebagaimana tercantum
dalam Pasal 5
|
sebagaimana paham
negara kita yang
|
||||||||||||||
|
Perda
RTRW merupakan kewajiban yang
|
menganut
welfare state. Pemerintah daerah
|
||||||||||||||
|
harus
|
dijalankan
|
oleh
|
Pemerintah
|
dituntut berperan
lebih jauh dan
|
|||||||||||
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur,
sehingga
|
melakukan
campur tangan terhadap aspek-
|
||||||||||||
|
untuk mencapai
tujuan tersebut, perlu
|
aspek
|
pemenuhan kebutuhan
|
masyarakat
|
||||||||||||
|
dipelajari
faktor-faktor yang menghambat
|
dalam
|
rangka
|
mewujuskan kesejahteraan
|
||||||||||||
|
implementasi peraturan
daeah
|
tersebut,
|
rakyatnya.
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
sebab dengan
teridentifikasinya faktor-
|
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
|||||||||||
|
faktor
|
penghambat implementasi
|
maka
|
sebagai daerah
yang sebagian besar
|
||||||||||||
|
akan
dapat dirumuskan langkah-langkah
|
penduduknya
|
bermatapencaaharian di
|
|||||||||||||
|
dalam
|
mengatasinya,
|
sehingga
|
|
tujuan
|
sektor pertanian
tentu saja memerlukan
|
||||||||||
|
penyelenggaraan
|
penataan
|
ruang
|
guna
|
ketersediaan lahan yang cukup dan subur
|
|||||||||||
|
.............................................
|
|||||||||||||||
|
mewujudkan
|
pengembangan
|
wilayah
|
serta
|
memiliki ketersediaan
|
air
|
yang
|
|||||||||
|
18
|
|
|
Analisis Penyelenggaraan
Penataan Ruang … (Lintje Anna Marpaung)
|
||||||||||||
|
perumahan,
|
agroindustri,
|
transportasi,
|
|||||||||||||
|
yang
mencakup pertanian tanaman pangan,
|
perdagangan dan
lain-lain. Aktivitas
|
||||||||||||||
|
perkebunan,
|
peternakan
|
dan
perikanan,
|
pembangunan
|
|
tersebut
|
tentu
|
saja
|
||||||||
|
baik perikanan
darat maupun laut,
|
memerlukan lahan
dan ruang sebagai
|
||||||||||||||
|
memerlukan
|
kualitas lingkungan
|
yang
|
tempat
|
untuk
|
|
menampung
|
kegiatan
|
||||||||
|
baik,
|
pelanggaran pemanfaatan
|
ruang
|
dimaksud.
Hal ini berarti berhubungan erat
|
||||||||||||
|
dapat
mengakibatkan dampak yang tidak
|
dengan
|
masalah
|
lingkungan
|
tempat
|
|||||||||||
|
baik
terhadap lingkungan. Sebagai contoh,
|
aktivitas
|
|
pembangunan
|
|
|
tersebut
|
|||||||||
|
alih fungsi
lahan pertanian menjadi
|
berlangsung.
Penggunaan lahan oleh setiap
|
||||||||||||||
|
permukiman
menyebabkan luas areal lahan
|
aktivitas
|
pembangunan
|
sedikitnya akan
|
||||||||||||
|
subur di
Kabupaten Lampung Timur
|
mengubah
rona lingkungan awal menjadi
|
||||||||||||||
|
menjadi berkurang,
alih fungsi hutan
|
rona lingkungan
baru, sehingga terjadi
|
||||||||||||||
|
lindung Register
38 yang merupakan
|
perubahan kesinambungan
|
lingkungan,
|
|||||||||||||
|
daerah
tangkapan air Waduk Way Jepara
|
yang
kalau tidak dilakukan penggarapan
|
||||||||||||||
|
menjadi
daerah pemukiman, menyebabkan
|
secara
cermat dan bijaksana, akan terjadi
|
||||||||||||||
|
turunnya
debit air, sehingga ribuan hektar
|
kemerosotan
kualitas lingkungan, merusak
|
||||||||||||||
|
lahan
pertanian terancam kekeringan.
|
dan bahkan
|
memusnahkan
|
kehidupan
|
||||||||||||
|
|
Berdasarkan
|
|
permasalahan
|
habitat
|
tertentu
|
dalam
|
|
ekosistem
|
|||||||
|
pelanggaran
|
pemanfaatan
|
ruang tersebut,
|
bersangkutan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
diperlukan adanya
campur tangan dari
|
Melihat kondisi tersebut di atas,
|
||||||||||||||
|
pihak
pemerintah daerah untuk menjaga
|
penyelenggaraan
|
penataan
ruang
|
sebagai
|
||||||||||||
|
kualitas
lingkungan dan sumber daya alam,
|
salah satu
instrumen perlindungan dan
|
||||||||||||||
|
karena
dalam pemanfaatan sumber daya
|
pengelolaan
|
lingkungan
|
hidup
|
perlu
|
|||||||||||
|
alam menyangkut
hajat hidup orang
|
dilaksanakan
oleh Pemerintah Kabupaten
|
||||||||||||||
|
banyak.
Campur tangan pemerintah dalam
|
Lampung
|
Timur
|
secara
|
optimal.
|
|||||||||||
|
urusan
|
masyarakat
|
|
sesungguhnya
|
Berdasarkan
hal tersebut, penyelenggaraan
|
|||||||||||
|
merupakan peran
sentral, tetapi bukan
|
penataan
ruang di Kabupaten Lampung
|
||||||||||||||
|
berarti rakyat
berpangku tangan, tanpa
|
Timur
|
yang
|
|
meliputi
|
pengaturan,
|
||||||||||
|
peran dan
partisipasi sama sekali.
|
pembinaan,
pelaksanaan, dan pengawasan
|
||||||||||||||
|
Pemerintah
merupakan pemegang otoritas
|
penataan
ruang perlu dianalisis lebih lanjut
|
||||||||||||||
|
kebijakan
publik yang harus memainkan
|
dalam
|
perspektif
|
|
pembangunan
|
|||||||||||
|
peran
penting untuk memotivasi seluruh
|
berkelanjutan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
kegiatan dan
|
partisipasi
|
masyarakat,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
melalui
berbagai penyediaan fasilitas demi
|
1.Pengaturan Penataan Ruang
|
|
|
||||||||||||
|
berkembangnya
|
kegiatan
|
|
perekonomian
|
Penetapan
|
|
Peraturan
|
|
Daerah
|
|||||||
|
sebagai
lahan masyarakat untuk memenuhi
|
Kabupaten Lampung
Timur Nomor 04
|
||||||||||||||
|
kebutuhan
sendiri sekarang dan masa yang
|
Tahun
2012 tentang Rencana Tata Ruang
|
||||||||||||||
|
akan
datang.
|
|
|
|
|
|
Wilayah
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
||||||
|
|
Secara makro, disamping kegiatan
|
Tahun 2011-2031,
telah sesuai dengan
|
|||||||||||||
|
sektor
|
pertanian
|
kegiatan
|
pembangunan
|
amanat
Pasal 78 ayat (4) huruf c Undang-
|
|||||||||||
|
ekonomi
di Kabupaten Lampung Timur
|
Undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang
|
||||||||||||||
|
meliputi
berbagai aktivitas pembangunan,
|
Penataan Ruang,
dimana Pasal tersebut
|
||||||||||||||
|
mulai
|
dari
|
pembangunan
|
sektor
|
mengamanatkan
|
bahwa
|
semua
|
peraturan
|
||||||||
|
.............................................
|
|||||||||||||||
|
PRANATA HUKUM Volume 9 Nomor 1 Januari 2014
|
|
|
|
|
|
|
|
19
|
|||||||
|
di atas,
ternyata belum mencakup
|
||||||||||||||||||||
|
ruang
wilayah kabupaten/kota disusun atau
|
pelaksanaan
keseluruhan aspek pembinaan
|
|||||||||||||||||||
|
disesuaikan
paling lambat 3 (tiga) tahun
|
penataan
ruang sebagaimana diatur dalam
|
|||||||||||||||||||
|
terhitung
sejak undang-undang
|
penataan
|
Pasal 9
Peraturan Pemerintah Nomor 15
|
||||||||||||||||||
|
ruang
|
diberlakukan.
|
Hal
|
tersebut
|
Tahun
|
2010
|
tentang
|
Penyelenggaraan
|
|||||||||||||
|
mengindikasikan
|
|
bahwa
|
Pemerintah
|
Penataan
|
Ruang.
Pelaksanaan
|
pemberian
|
||||||||||||||
|
Kabupaten Lampung
Timur telah taat
|
bimbingan,
|
supervisi,
|
dan
|
|
konsultasi
|
|||||||||||||||
|
terhadap
amanat undang-undang dengan
|
pelaksanaan
penataan ruang, pelaksanaan
|
|||||||||||||||||||
|
melaksanakan
proses kegiatan penyusunan
|
penelitian
dan pengembangan, pelaksanaan
|
|||||||||||||||||||
|
dan
perencanaan Perda RTRW tersebut
|
pengembangan kesadaran
dan
|
tanggung
|
||||||||||||||||||
|
pada
Tahun 2010 atau tepat 3 (tiga) tahun
|
jawab
masyarakat dalam penyelenggaraan
|
|||||||||||||||||||
|
setelah undang-undang penataan
ruang
|
penataan
ruang belum dapat dilaksanakan
|
|||||||||||||||||||
|
diberlakukan.
|
|
|
|
|
|
|
|
oleh Pemerintah
|
|
Kabupaten
|
Lampung
|
|||||||||
|
Pelaksanaan
|
|
penyusunan
|
Perda
|
Timur.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
RTRW
|
oleh
|
Pemerintah
|
Kabupaten
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
Lampung Timur
pada Tahun 2010
|
3.Pengawasan Penataan Ruang
|
|
|
|||||||||||||||||
|
merupakan sebuah
prestasi yang cukup
|
Berdasarkan hasil wawancara dengan
|
|||||||||||||||||||
|
membanggakan,
|
menurut
|
Bpk.
Choldin,
|
Bpk. Choldin,
selaku Ketua Kelompok
|
|||||||||||||||||
|
selaku
|
Ketua
|
|
Kelompok
|
Kerja
|
Kerja
|
Perencanaan
|
dan
|
Pemanfaatan
|
||||||||||||
|
Perencanaan
|
dan
|
Pemanfaatan
|
Ruang
|
Penataan
Ruang, pelaksanaan pengawasan
|
||||||||||||||||
|
BKPRD
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur,
|
penyelenggaraan
|
penataan
|
ruang
|
oleh
|
|||||||||||||
|
berdasarkan
|
|
evaluasi
|
|
Kementerian
|
pemerintah
|
pusat
|
melalui
|
|
Direktorat
|
|||||||||||
|
Pekerjaan Umum
|
Republik
|
Indonesia,
|
Penataan
|
Ruang
|
Kementerian
|
Pekerjaan
|
||||||||||||||
|
Pemerintah
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
Umum
terhadap penyelenggaraan penataan
|
||||||||||||||||
|
merupakan
salah satu kabupaten/kota di
|
ruang di
Kabupaten Lampung Timur
|
|||||||||||||||||||
|
Provinsi
Lampung yang telah lebih dulu
|
dilakukan
|
secara
|
berkala.
|
Pengawasan
|
||||||||||||||||
|
melakukan
|
kegiatan
|
penyusunan
|
Perda
|
dilaksanakan
|
terhadap
|
pelaksanaan
|
||||||||||||||
|
RTRW.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
penyusunan
dan penetapan rencana tata
|
||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
ruang wilayah
dan rencana detail
tata
|
||||||||||
|
2.Pembinaan Penataan Ruang
|
|
|
ruang.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
Pelaksanaan
sosialisasi Perda RTRW
|
Pelaksanaan
|
|
pengawasan
|
dilakukan
|
||||||||||||||||
|
kepada
para pihak terkait dengan media
|
dengan
|
|
meminta
|
laporan
|
|
kemajuan
|
||||||||||||||
|
tatap muka
yang diselenggarakan oleh
|
pelaksanaan
|
kegiatan
|
penyusunan
|
dan
|
||||||||||||||||
|
Pemerintah
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur,
|
penetapan
rencana tata ruang. Disamping
|
||||||||||||||||
|
pelaksanaan
|
koordinasi
|
penataan
|
ruang,
|
itu,
pihak Kementerian Pekerjaan Umum
|
||||||||||||||||
|
pelaksanaan
pendidikan dan pelatihan, dan
|
juga
melaksanakan cross check langsung
|
|||||||||||||||||||
|
penyebarluasan
|
informasi
|
tata
|
ruang
|
di
lapangan, dengan mengirimkan personil
|
||||||||||||||||
|
melalui
web site, mengindikasikan bahwa
|
untuk
bertemu langsung dengan anggota
|
|||||||||||||||||||
|
sebagian
aspek pembinaan penataan ruang
|
BKPRD
|
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur.
|
|||||||||||||||
|
telah
dapat dilaksanakan dengan baik oleh
|
Petugas
|
tersebut
|
melakukan
|
inventarisasi
|
||||||||||||||||
|
Pemerintah
Kabupaten Lampung Timur.
|
langsung
mengenai kemajuan pelaksanaan
|
|||||||||||||||||||
|
Pelaksanaan
|
|
sebagian
|
|
aspek
|
penyusunan dan penetapan rencana tata
|
|||||||||||||||
|
.............................................
|
||||||||||||||||||||
|
pembinaan
penataan ruang seperti tersebut
|
ruang
beserta hambatan yang ada
|
Selain
|
||||||||||||||||||
|
20
|
|
|
|
|
Analisis Penyelenggaraan
Penataan Ruang … (Lintje Anna Marpaung)
|
|||||||||||||||
|
petugas
|
|
tersebut
|
melakukan
|
sanksi
kepada para pelanggar tata ruang
|
||||||||||||
|
inventarisasi
mengenai pencapaian standar
|
sesuai
|
dengan
|
ketentuan
|
peraturan
|
||||||||||||
|
pelayanan
minimal bidang penataan ruang
|
perundang-undangan. Pemerintah
daerah
|
|||||||||||||||
|
oleh
pemerintah daerah.
|
|
|
|
masih
terlalu permisif terhadap ancaman
|
||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
pelanggaran
|
pemanfaatan
|
ruang
|
yang
|
|||||
|
Faktor -Faktor
|
|
Penghambat
|
dapat
|
mengakibatkan
|
degradasi
|
kualitas
|
||||||||||
|
Implementasi
|
|
Peraturan
|
Daerah
|
lingkungan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Kabupaten Lampung Timur Nomor 04
|
Berdasarkan hasil wawancara dengan
|
|||||||||||||||
|
Tahun 2012 tentang
Rencana Tata
|
Bpk. Choldin, selaku
Ketua Kelompok
|
|||||||||||||||
|
Ruang Wilayah
|
Kabupaten
Lampung
|
Kerja
|
Perencanaan
|
dan
|
Pemanfaatan
|
|||||||||||
|
Timur Tahun 2011-2031.
|
|
|
Ruang
|
BKPRD
|
Kabupaten
|
Lampung
|
||||||||||
|
Implementasi
|
Peraturan
|
Daerah
|
Timur,
|
BKPRD
|
Kabupaten
|
Lampung
|
||||||||||
|
Kabupaten Lampung
Timur Nomor 04
|
Timur baru sebatas melakukan tindakan
|
|||||||||||||||
|
Tahun
2012 tentang Rencana Tata Ruang
|
preventif guna
|
mengatur
|
pemanfaatan
|
|||||||||||||
|
Wilayah
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
ruang sesuai fungsi
ruang wilayah.
|
||||||||||||
|
Tahun 2011-2031
dirasakan belum
|
Pelaksanaan
|
pengendalian
|
pemanfaatan
|
|||||||||||||
|
berjalan
secara optimal, terutama aspek
|
ruang oleh pemerintah daerah terkendala
|
|||||||||||||||
|
pelaksanaan pengendalian
|
pemanfaatan
|
berbagai
faktor yaitu :
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
ruang. Sebagai
contoh terkini adalah
|
1. Faktor internal pemerintah daerah
|
|
||||||||||||||
|
belum
|
ditertibkannya
|
aktivitas
|
para
|
a.
|
rencana tata ruang wilayah adalah
|
|||||||||||
|
penambang pasir
liar di Kecamatan
|
|
ketentuan
|
yang masih
|
bersifat
|
||||||||||||
|
Labuhan
Maringgai dan Kecamatan Pasir
|
|
umum,
|
yang
|
merupakan
|
arahan
|
|||||||||||
|
Sakti yang
telah merusak lingkungan
|
|
bagi pengembangan suatu wilayah
|
||||||||||||||
|
sekitar
tambang. Selain itu, di lapangan
|
|
per kecamatan. Rencana tata ruang
|
||||||||||||||
|
juga
masih ditemukan pembangunan fisik
|
|
wilayah
|
Kabupaten
|
Lampung
|
||||||||||||
|
terutama rumah
tinggal yang tidak
|
|
Timur
|
|
|
baru
|
|
|
sebatas
|
||||||||
|
memiliki
|
izin
|
mendirikan
|
bangunan.
|
|
menggambarkan fungsi ruang dari
|
|||||||||||
|
Aktivitas
pemanfaatan ruang yang tidak
|
|
suatu
|
kecamatan,
|
fungsi
|
ruang
|
|||||||||||
|
mengacu pada
fungsi ruang dapat
|
|
masing-masing
|
desa
|
dalam
|
||||||||||||
|
mengakibatkan
|
berbagai
masalah
|
seperti
|
|
kecamatan
|
belum
|
diatur
|
dalam
|
|||||||||
|
penimbunan
sampah dan limbah domestik,
|
|
Perda RTRW. Selain
itu, peta
|
||||||||||||||
|
kelangkaan air
bersih dan kelangkaan
|
|
rencana tata ruang dengan skala 1 :
|
||||||||||||||
|
lahan
(kesesakan).
|
|
|
|
|
|
50.000
|
dirasakan
|
masih
|
terlalu
|
|||||||
|
Pelanggaran terhadap Perda RTRW,
|
|
besar
|
sehingga
|
tidak
|
|
dapat
|
||||||||||
|
berdasarkan
hasil wawancara dengan Bpk.
|
|
menggambarkan secara akurat garis
|
||||||||||||||
|
Sudibyo,
selaku Ketua Komisi D DPRD
|
|
batas
|
administratif
|
|
hingga
|
ke
|
||||||||||
|
Kabupaten
Lampung Timur, adalah bukti
|
|
tingkat
|
desa
|
maupun
|
dusun.
|
|||||||||||
|
ketidaktegasan
pemerintah daerah terhadap
|
|
Diperlukan
|
rencana
|
detail
|
tata
|
|||||||||||
|
para
|
perusak
|
lingkungan.
|
Pemerintah
|
|
ruang per kecamatan dalam bentuk
|
|||||||||||
|
Kabupaten
Lampung Timur sebagai pihak
|
|
peraturan
|
daerah
|
yang
|
|
telah
|
||||||||||
|
yang
berwenang di bidang penataan ruang
|
|
memiliki fungsi ruang
masing-
|
||||||||||||||
|
tidak memiliki
cukup keberanian untuk
|
|
masing
desa dan peta
yang
|
||||||||||||||
|
.............................................
|
||||||||||||||||
|
melakukan
|
penertiban
|
dan
|
memberikan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
PRANATA HUKUM Volume 9 Nomor 1 Januari 2014
|
|
|
|
|
|
|
|
21
|
||||||||
|
ketentuan
sanksi bagi para pihak pelanggar
|
|||||||||||||||||
|
dengan
berbagai dalih.
|
|
|
|
pemanfaatan
|
ruang.
|
Pengenaan
|
sanksi
|
||||||||||
|
e.
kurangnya dukungan dari
aparat
|
diperlukan
untuk tegaknya Perda RTRW,
|
||||||||||||||||
|
penegak hukum dalam melakukan
|
ditaati
oleh semua pihak, sehingga Perda
|
||||||||||||||||
|
penertiban
|
|
|
|
pelanggaran
|
RTRW
dapat berjalan sesuai dengan yang
|
||||||||||||
|
pemanfaatan
|
|
ruang,
|
hal
|
|
ini
|
dikehendaki,
yaitu menciptakan ketertiban,
|
|||||||||||
|
mungkin
|
diakibatkan
|
oleh
|
kepastian,
dan keadilan guna mewujudkan
|
||||||||||||||
|
kurangnya
|
|
koordinasi
|
antar
|
pengembangan
wilayah berbasis agribisnis
|
|||||||||||||
|
instansi.
|
|
|
|
|
|
|
yang
berdaya saing secara berkelanjutan
|
||||||||||
|
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat
|
dan
merata.
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
dianalisis bahwa faktor-faktor penghambat
|
Faktor-faktor
|
|
|
yang
|
|
menjadi
|
|||||||||||
|
implementasi Peraturan Daerah Kabupaten
|
penghambat
|
|
implementasi
Perda
|
RTRW
|
|||||||||||||
|
Lampung Timur Nomor 04 Tahun 2012
|
adalah
rencana tata ruang wilayah masih
|
||||||||||||||||
|
tentang
Rencana Tata Ruang
Wilayah
|
bersifat
umum, kurangnya sumber daya
|
||||||||||||||||
|
Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011-
|
manusia
|
|
dan
|
|
pendanaan
|
untuk
|
|||||||||||
|
2031 sesuai dengan teori yang menyatakan
|
melaksanakan
|
pengawasan,
|
kurangnya
|
||||||||||||||
|
bahwa
|
|
implementasi
|
kebijakan
|
pemahaman
aparatur pemerintah, aparatur
|
|||||||||||||
|
mempunyai
|
beberapa
|
faktor
|
penghambat
|
pemerintah
|
|
tidak
|
|
cukup
|
memiliki
|
||||||||
|
antara lain masih samarnya isi kebijakan,
|
keberanian
|
|
untuk
|
memberikan
|
sanksi,
|
||||||||||||
|
adanya gangguan informasi, tidak cukup
|
kurangnya
|
sosialisasi
|
dan
|
penyuluhan
|
|||||||||||||
|
dukungan untuk pelaksanaan, dan adanya
|
kepada
masyarakat, pesatnya pertumbuhan
|
||||||||||||||||
|
keinginan dari anggota masyarakat untuk
|
penduduk
|
yang
|
berkonsekuensi pada
|
||||||||||||||
|
mencari keuntungan secara cepat dengan
|
meningkatnya
permintaan akan ruang yang
|
||||||||||||||||
|
jalan melawan hukum.
|
|
|
|
|
|
cenderung
tidak mengindahkan kelestarian
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
lingkungan,
adanya oknum-oknum yang
|
||||||||
|
III.PENUTUP
|
|
|
|
|
|
|
mengambil
keuntungan dari pemanfaatan
|
||||||||||
|
Penyelenggaraan
|
penataan ruang
|
di
|
ruang yang
tidak sesuai dengan
|
||||||||||||||
|
Kabupaten
|
Lampung
|
Timur
|
dalam
|
peruntukkan,
|
adanya
|
keinginan
|
oknum
|
||||||||||
|
kegiatan
pengaturan, kegiatan pelaksanaan
|
masyarakat
|
|
untuk
|
mencari
|
keuntungan
|
||||||||||||
|
Peraturan
yang sudah di buat dan berada di bawah hukum harusnya dapat di tegakan sesuai
dengan peraturan yang ada tanpa melihat apapun sehingga perencanaan tata ruang
dapat berjalan sesuai rencana dan susuai aturan yang sudah di buat sehingga
dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat
|
dengan
|
jalan
|
melanggar
|
pemanfaatan
|
|||||||||||||
|
penataan
ruang di Kabupaten Lampung
|
pelanggaran
pemanfaatan ruang.
|
|
|||||||||||||||
|
Timur,
|
namun,
|
kegiatan
|
pembinaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
penataan
|
ruang,
|
kegiatan
|
pelaksanaan
|
DAFTAR PUSTAKA
|
|
|
|
||||||||||
|
pengendalian pemanfaatan
|
ruang,
|
dan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
kegiatan
|
pengawasan
|
penataan
|
ruang
|
A. BUKU
|
|
|
|
|
Politik
|
Hukum
|
|||||||
|
belum dapat dilaksanakan secara
optimal.
|
Akib,
|
Muhammad,
|
|||||||||||||||
|
Diperlukan
komitmen
|
pemerintah daerah
|
|
Lingkungan
|
|
(Dinamika
|
dan
|
|||||||||||
|
untuk
|
melaksanakan
|
pengendalian
|
|
Refleksinya Dalam Produk Hukum
|
|||||||||||||
|
.............................................
|
|||||||||||||||||
|
pemanfaatan
|
ruang
|
terutama
|
Pelaksanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
PRANATA HUKUM Volume 9 Nomor 1 Januari 2014
|
|
|
|
|
|
|
|
23
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
Asshiddiqie, Jimly, Konstitusi Ekonomi, Penerbit Buku
Kompas, Jakarta, 2010.
Ayu, I Gusti, Pengantar
Hukum Lingkungan, CakraBooks,
Solo, 2011.
Biro Pusat Statistik, Lampung Timur
Dalam Angka Tahun 2012, BPS,
Lampung
Timur, 2012.
Genta Publishing, Yogyakarta, 2009.
Syafrudin, Ateng,
Titik Berat
Otonomi
Daerah Pada Daerah Tingkat II
Dan Perkembangannya, Cetakan
Kesebelas,
Penerbit Mandar Maju,
Bandung,
1991.
Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan
Yang Baik (Gagasan Pembentukan
Undang-Undang Berkelanjutan),
Cetakan
Ketiga, PT RajaGrafindo
Persada,
Jakarta, 2009.
|
Gaffar,
Affan, Otonomi Daerah Dalam
|
B.
PERATURAN PERUNDANG-
|
|||||||||||||||
|
Negara Kesatuan, Pustaka Pelajar,
|
||||||||||||||||
|
Yogyakarta, 2009.
|
UNDANGAN
|
|||||||||||||||
|
Handayaningrat,
Soewarno. Pengantar
|
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
|
|||||||||||||||
|
Studi
|
Ilmu
|
|
Administrasi
|
dan
|
Tahun 1945.
|
|
|
|
|
|||||||
|
Managemen,
|
|
Gunung
|
Agung,
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
Jakarta.
1980.
|
|
|
|
|
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
|
|||||||||||
|
Hasni, Hukum Penataan
Ruang dan
|
tentang
Pemerintahan Daerah.
|
|
||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
|
Penatagunaan
|
|
Tanah,
|
PT
|
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
|
||||||||||||
|
RajaGrafindo
|
Persada,
|
Jakarta,
|
Tentang
Penataan Ruang.
|
|
||||||||||||
|
2008.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
Hardjasoemantri,
|
|
K.,
|
Hukum
|
Tata
|
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
|
|||||||||||
|
|
tentang
|
|
Perlindungan
|
dan
|
||||||||||||
|
Lingkungan, Cetakan kedua puluh
|
Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
|
|||||||||||||||
|
satu,
|
Gadjah
|
Mada
|
University
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
Press,
Jogjakarta, 2012.
|
|
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011
|
|||||||||||||
|
Kelsen,
|
Hans,
|
Teori
|
Umum
|
Tentang
|
tentang
|
Pembentukan
|
Peraturan
|
|||||||||
|
Perundang-undangan.
|
|
|
||||||||||||||
|
Hukum
|
|
|
dan
|
Negara,
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
Diterjemahkan
|
|
oleh
|
|
Raisul
|
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1999
|
|||||||||||
|
Muttaqien,
Nusa Media Indonesia,
|
||||||||||||||||
|
tentang
|
Pembentukan
|
Kabupaten
|
||||||||||||||
|
Bandung,
2011.
|
|
|
|
|||||||||||||
|
|
|
|
Daerah Tingkat
II Way Kanan,
|
|||||||||||||
|
Ridwan,
|
Juniarso,
|
dan
|
Achmad
|
Sodik,
|
Kabupaten
|
Daerah Tingkat
|
II
|
|||||||||
|
Lampung
|
Timur,
|
Kotamadya
|
||||||||||||||
|
Hukum
|
Tata
|
|
Ruang
|
(Dalam
|
||||||||||||
|
|
Daerah
Tingkat II Metro.
|
|
||||||||||||||
|
Konsep
|
Kebijakan
|
Otonomi
|
|
|||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
|
Daerah),
|
|
Penerbit
|
Nuansa,
|
Peraturan
Pemerintah
|
Nomor
|
15 Tahun
|
||||||||||
|
Bandung,
2013.
|
|
|
|
|||||||||||||
|
|
|
|
2010
|
tentang
|
Penyelenggaraan
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
|
Rahardjo,
|
|
Satjipto,
|
Membangun
|
dan
|
Penataan
Ruang.
|
|
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||
|
.............................................
|
||||||||||||||||
|
Merombak
|
Hukum
|
Indonesia,
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
|
24
|
|
|
|
|
Analisis
Penyelenggaraan Penataan Ruang … (Lintje Anna Marpaung)
|
|||||||||||
50 Tahun
2009 Tentang Pedoman
Koordinasi Penataan Ruang
Daerah.
Peraturan Daerah Kabupaten Lampung
Timur Nomor 04 Tahun 2012
tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Lampung
Timur
Tahun 2011-2031.
Keputusan Bupati Lampung Timur
Nomor:
B.683/19/SK/2013 tentang
Pembentukan Badan Koordinasi
Penataan
Ruang Daerah Kabupaten
Lampung
Timur.
.............................................
PRANATA HUKUM Volume 9 Nomor 1
Januari 2014 25
Komentar
Posting Komentar